Rabu, 01 Desember 2010

It's My Story..

        Seperti biasa, hari ini sepulang sekolah aku menunggu Indra, seseorang yang sangat special bagiku, di kelas untuk menjemputku. Penyakit magh ku sedang kambuh, jadi Indra memintaku untuk menunggunya untuk menjemputku. Tapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Hmm, mungkin Indra tak akan datang untuk menjemputku. Lagipula, kalau Indra sampai datang menjemput aku khawatir alergi dia akan kambuh. Ya, dia alergi dingin. Aku sedikit khawatir dengan penyakitnya itu.
        Aku dan Indra udah hampir 2 tahun pacaran. Ya, awalnya sih ga nyangka banget bisa deket sama Indra, secara dia kan banyak yang suka di sekolah. Kadang cemburu juga sih, kalau ada yang suka sama Indra. Walaupun, aku pernah terluka karena dia, tapi aku masih bisa memaafkannya. Lagipula, dia udah janji ga bakalan kaya gitu lagi.
        “Gimana Ra, kamu jadi dijemput sama si Indra ?” Tanya Vita yang juga ada di kelas.
“Hmm, ga tahu nih, kayaknya nggak, lagian diluar ujan gede banget, belum lagi petirnya itu lo !” jawabku.
Tok…tok.. terdengar suara ketukan pintu, aku pun membukanya. “Permisi, ada yang namanya Kak Rara disini ?” ujar seorang adik kelas yang mengetuk pintu tadi. “Ya, saya. Ada apa ya ?” jawabku. “Kak Rara ditunggu sama Kak Indra di halte.” Katanya.
Whatttt ???? Indra maksain jemput aku ? Padahal diluar hujan deras ditambah petirnya yang juga sangat bikin jantung hamper copot. Aku pun bergegas menuju halte depan sekolah.
“Hey, aku duluan ya ?” pamitku pada teman-temanku. “Sipp, hati-hati ya diluar ujan loh !” kata teman-temanku mengingatkan. “Okee, tenang aja !” ujarku.
Akhirnya, aku sampai di halte depan sekolah.
“Heyy !” sapaku pada Indra yang sudah ada di depanku. “Eh, hey ! Gimana perutnya, masih sakit ?” tanyanya padaku.
“Dikit koq say, tenang aja !” jawabku. “Bener nih, udah mendingan ?” tanyanya lagi masih ragu. “Iya, nanti juga hilang koq. Mau pulang sekarang ?” ujarku, balik bertanya padanya.
“hmm, enggak sih. Aku hanya ingin mastiin aja, kamu masih di sekolah apa enggak, berhubung kan sekarang ujan deras.” Ujarnya.
“Terus ?” jawabku tak mengerti. “Ya, aku Cuma khawatir aja sama kamu, kamu kan lagi sakit Ra, masa kamu mau ujan-ujanan sama aku naik motor ? Aku khawatir nanti kamu malah makin sakit.” Ujarnya panjang lebar.
“Terus mau gimana ? kan kamu juga udah ada dsini.” Tanyaku.
“Udah, kamu ga usah khawatir. Aku bisa pulang sendiri nanti kalau ujannya reda. Kamu balik aja ke kelas, disini dingin. Kamu pulang aja sama temen-temen, tapi jangan sore-sore ya sayang ?” ujarnya dengan penuh perhatian.
Aku bingung, kalau aku balik ke kelas, ujan juga di jalannya. Lagian kalau bareng sama temen-temen, pasti sore juga pulangnya. Tapi kalau pulang sama Indra, pasti ujan-ujanan. Haduuhhh…..
“Hey, koq diem ?” tanyanya, membuyarkan lamunanku.
“Nggak, aku cuma bingung aja In,” jawabku. “Ga usah bingung gitu dong, kamu sms aja temen di kelas buat jemput kamu pake payung, biar aku nunggu disini.” Ujarnya.
“Ga mau ah, aku mau sama kamu aja disini.” Ujarku. “Ih, ga usah, kamu masuk aja ke kelas !” kata Indra.
“Ah, ga mau. Aku mau disini aja sama kamu. Kalau kamu disini aku juga mau disini.” Jawabku, tetap tidak mau ke kelas.
“Ah, kamu susah dikasih tahu. Cepet sana ke kelas. Bukan ngusir, bukan apa, tapi aku khawatir aja sama kamu.” Ujarnya.
“Tetep ga mau. Masa aku biarin kamu gitu aja ? kamu juga keujanan, sampe basah semua, pucat juga tuh wajah kamu !” jawabku sambil mengelus wajahnya.
“Udah, ga apa-apa. Lagian kalau kamu nanti ke kelas aku bisa balik ke rumah, terus berangkat les,” kata Indra tetap memaksa.
“Ga mau, lagian aku ga bakalan biarin kamu ujan-ujanan, lihat, ujannya gede banget In !” kataku.
“Okelah, tapi bener kamu ga apa-apa ?” kata Indra akhirnya.
“Sipp, aku ga apa-apa koq. Lagian ada kamu disini,” jawabku sambil tertawa.
Akhirnya, kami berdua menunggu hujan reda di halte, berdua. Namun, hujan tak kunjung reda. Aku bingung, kemudian bertanya pada Indra.
“In, kita ke kelas aja yuk, daripada disini dingin.” Ajakku pada Indra.
“Ga mau ah, malu di gerbangnya banyak orang. Ya udah, kalau kamu mau ke kelas, aku ga apa-apa koq,” jawabnya.
“Ya sudah, aku juga tetep disini aja. Aku ga mau kalau ga sama kamu !”kataku akhirnya.
Akhirnya, kami pun tetap menunggu di halte sambil mengobrol. Tak lama kami melihat teman-teman kami sudah ada di gerbang. Kami pun memanggilnya. Teman-teman pun menghampiri kami di halte.
“Aduh, Indra muka kamu pucat banget. Ujan-ujanan ya ?” kata Fitri,  salah seorang temenku yang katanya sih “suka” sama Indra. Tapi ga apa-apa lah, yang penting Indra tetep sama aku. Hahaa .. Indra hanya tersenyum ketika itu. Senang juga rasanya Indra tak menghiraukan dia.
“Aduhh, sepatuku basah semua nih, apalagi aku bawa laptop, masa mau maksain pulang ?” kata Niar temenku yang paling bawel.
“Iya nih, dari tadi aku sama Indra disini nunggu ujan reda,” kataku.
“Jadi kalian dari tadi belum pulang ?” kata Rachma, temanku yang paling kalem. “Belum,” jawabku singkat.
“Oh ya Rachma, kamu kan paling deket rumahnya, bisa titip laptop punya Rara ga ? nanti takut kebasahan kalau dibawa pulang,” kata Indra.
“Duh, kayanya ga bisa deh In, soalnya tasku udah penuh, aku juga bawa laptop.” Jawab Rachma. “Ya sudah, tak apa koq In, lagian laptop aku pake tas lagi, jadi ga akan basah.” Kataku. “Oh, ya sudah kalau begitu. Tapi bener taka apa Ra ?” kata Indra. “Iya, tak apa kok sayang !” jawabku meyakinkan.
“Eh, kalau mau, titip di aku aja !” kata Niar menawarkan. “Ga usah lah, nanti malah repot.” Kataku. “Oh, ya sudahlah. Just menawarkan saja. Heheee…”
“Dasar kamu, ada-ada aja !” kataku.
Tiba-tiba hujan pun sedikit reda. Indra mengajakku untuk segera pulang. Kami pun berpamitan pada yang lain.
“Eh Ra, maaf ya gara-gara aku, kamu jadi ujan-ujanan.” Kata Indra, ketika kami sedang di jalan. “Ih, tenang aja ! aku ga apa-apa koq.” Jawabku.
“Tapi kan tetep ga enak Ra !” kata Indra. “Tenang aja, aku ga bakalan sakit gara-gara ujan, paling cuma pilek aja. Yang ada juga kamu, In, kamu ga apa-apa ujan-ujanan, ntar alergi kamu kumat lagi.” Kataku.
“Ga apa-apa kok, lagian kalau ujan kaya gini, alerginya paling cuma dikit.” Katanya. “Bener nih ?” tanyaku masih ragu. “Iya sayang, tenang aja !” jawabnya. “Oke, tapi awas ya kalau sampe kambuh!” kataku. “Sippp !” jawabnya.
Akhirnya, kami sampai di rumah. Aku memaksa Indra untuk mampir dulu. Meskipun Indra terlihat sedikit malu, aku tetap memaksanya.
“Hey, makasih ya sayang udah mau nganterin !” kataku. “Iya, tak masalah kq say !” jawab Indra.
“Eh, aku bawakan handuk sama teh hangat untuk kamu ya ?” kataku. “Eh, tak usah lah, nanti malah merepotkan.” Jawabnya. “Ga akan merepotkan, kan aku yang minta,” kataku. “Oh, ya sudah, makasih ya sebelumnya.” Ujar Indra akhirnya.
Aku pun membawakan teh hangat dan handuk untuk Indra. Kasihan Indra, alerginya terlihat kambuh di tangan dan mukanya. Aku megelap wajahnya yang masih basah kuyup. Kami pun mengobrol sedikit tentang hubungan kami.
“Eh, ga kerasa ya, hubungan kita udah mau hampir 2 tahun,” ujar Indra padaku. “Iya, ya. Hmm, rasanya baru seperti baru kemarin,” ujarku.
“Iyaa, kita juga udah deket banget, sampe keluarga pun udah pada tahu.” Kata Indra, sambil sesekali meminum teh nya.
“Bener banget In, rasanya ga kebayang kalau kita putus gitu aja,” jawabku. “Iya Ra, kamu jangan tinggalin aku ya ?” kata Indra.
“Hmm, iyaa Indra, tenang aja. Aku masih sama kamu kok. Asal kamu juga jangan ninggalin aku, oke ?” kataku. “Iyaa, meskipun kita lagi ada masalah, tapi jangan sampe ada kata putus yaa ?” ujar Indra. “Iyaa, Indra sayang. Abisin tuh teh nya takut keburu dingin,” kataku pada Indra, sambil tersenyum. Indra balik tersenyum.
Hari ini aku bahagia sekali, ternyata hubunganku sama Indra, bukan hubungan yang sebentar, udah banyak hal yang kita lewatin berdua. Aku merasa rasa sayangku sama Indra sudah sangat dalam. Aku juga takut kehilangan Indra. Aku takut Indra berpaling dariku. Aku takut kejadian yang dulu terulang lagi. Kejadian dimana cintaku dilimakan dengan orang lain. Sakit memang, tapi entah kenapa aku masih bisa memaafkan Indra, ya mungkin karena cinta yang benar-benar tulus.
Ya Tuhan, apakah memang dia orang yang tepat untukku ? Aku selalu berdoa, dia adalah orang yang dikirim Tuhan untukku, cinta sejati dalam hidupku.
“Hey, kok melamun ?” kata Indra. “Eh, enggak kok In, aku cuma inget sama kejadian yang dulu. Jangan kaya gitu lagi ya, In ?” kataku pada Indra. “Iya, tenang aja, lagian itu kan dulu, sekarang aku udah setia kok sama kamu,” jawab Indra dengan penuh kasih sayang. “Makasih ya In !” kataku sambil tersenyum. “Iyaa, santai ajaa.” Jawab Indra sambil mengelus kepalaku.
“Eh, aku pulang dulu ya, udah hampir maghrib nih,” kata Indra. “Iyaa, maaf ya, kamu pulangnya kesorean ?” kataku.
“Ih, santai aja lagi.” Kata Indra.
“Iyaa, hati-hati di jalannya ya In !” kataku mengingatkan.
“Sipp, daahh Ra. You are always in my heart,” katanya lagi.
“Iyaa sayang !” jawabku.
Setelah pamitan, Indra langsung pulang menuju rumahnya. Baru aku menemukan cowok kaya Indra, beda dari yang lainnya. Semoga, dia benar-benar cinta sejatiku, orang yang akan selalu ada disampingku. Ya, aku ykin itu. Semoga dia mempunyai perasaan yang sama denganku.
Walaupun nanti pada akhirnya dia bukan orang yang dikirim Tuhan untukku, tapi aku tidak akan pernah melupakan cerita ini. Cerita ini, sangat berharga bagikuu. Semoga kamu tahu, Indra..
Dan aku akan selalu berdoa, kau lah orang yang tepat untukku, orang yang dikirim Tuhan untukku. AMIINNN . J


1 komentar:

  1. follow back...sahrul pake blog temen...


    .sahrul...follow back...sahrul pake blog temen...


    .sahrul...

    BalasHapus